News and Education Versi penuh
next big think

Surplus 72 Bulan Pecah Telur, Mirae Asset Spill Saham yang Tetap Setrong!

Oleh Ahmad Syarifudin 07 Jul 2026 11:12 3 menit baca

Kalcernomics.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pergerakan pasar saham pada semester II-2026 bakal sangat bergantung pada ketahanan sektor eksternal Indonesia

. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum menentu, para investor diimbau untuk lebih selektif dan tidak asal pilih saham
.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa kemampuan emiten untuk tetap mempertahankan kinerjanya di tengah era suku bunga tinggi akan menjadi perhatian utama para pelaku pasar

.

"Kami melihat investor bakal makin concern sama kualitas fundamental perusahaan," kata Rully

. Menurutnya, di tengah situasi makroekonomi yang terus dinamis, emiten yang punya likuiditas tebal, kualitas aset yang oke, dan performa bisnis yang berkelanjutan bakal lebih dilirik ketimbang saham-saham yang gampang goyah akibat sentimen pasar
.

Atas dasar itulah, Mirae Asset masih menjagokan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan utama (top pick) di sektor perbankan

. BBCA dinilai punya fondasi bisnis yang jauh lebih kokoh dibanding bank-bank besar lainnya
. Hal ini terlihat dari potensi ekspansi net interest margin (NIM), likuiditas yang aman dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 74,1%, serta kualitas kredit yang terjaga dengan gross non-performing loan (NPL) di angka 1,8% dan cost of credit yang stabil pada level 6 basis poin
.

"Saat likuiditas perbankan lagi agak ketat, posisi BBCA relatif lebih aman dibanding bank besar lainnya," tambah Rully

. Ia juga mengingatkan investor untuk tetap menyeimbangkan analisis makro dengan riset mendalam pada fundamental emiten agar bisa menghadapi volatilitas pasar dengan optimal
.

Alarm dari Defisit Neraca Perdagangan

Di sisi lain, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menyebut fokus pasar sekarang mulai bergeser ke kemampuan Indonesia dalam menjaga ketahanan eksternal

. Pasalnya, neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar
. Angka ini otomatis memutus rekor surplus yang sudah bertahan selama 72 bulan berturut-turut, sekaligus menjadi defisit bulanan terdalam sejak April 2019
.

Menurut Novani, jebolnya neraca dagang ini dipicu oleh lesunya perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya angka impor migas

. Kondisi ini kian menantang karena terjadi bersamaan dengan defisit transaksi berjalan dan tren penurunan cadangan devisa
.

"Berakhirnya surplus 72 bulan ini jadi sinyal kalau bantalan eksternal kita mulai menipis. Efeknya, kita jadi makin bergantung sama aliran modal asing (portfolio inflow) untuk menjaga stabilitas eksternal," jelas Novani

.

Ke depan, pergerakan Rupiah dan sentimen pasar akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, kebutuhan impor energi, serta efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE)

. Selama tekanan terhadap Rupiah belum mereda dan transaksi berjalan masih defisit, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas moneter
.

Topik terkait
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Saham Pilihan Saham Bluechip top pick Neraca Perdagangan