News and Education Versi penuh
next big think

Beli Saham Karena Viral? Hati-Hati Jebakan yang Satu Ini

Jangan asal ikut tren saham. Pakar mengingatkan investor untuk memahami isi portofolio sebelum menambah investasi.

Oleh Fitri Yani 24 Jun 2026 17:00 3 menit baca

Setiap hari pasar selalu menawarkan cerita baru.

Pagi ini investor ramai membicarakan kecerdasan buatan (AI). Besok mungkin giliran saham energi karena konflik Timur Tengah. Minggu depan, perhatian bisa beralih ke perusahaan teknologi yang dikabarkan akan melantai di bursa.

Bagi investor muda, arus informasi tersebut hadir tanpa henti. Notifikasi aplikasi investasi, unggahan media sosial, podcast keuangan, hingga grup diskusi saham terus memunculkan peluang baru yang terlihat menjanjikan.

Masalahnya, tidak semua peluang baru benar-benar baru.

Sering kali investor terlalu sibuk mencari saham berikutnya untuk dibeli, tetapi lupa memeriksa isi portofolio yang sudah dimiliki.

Ketika Investor Terjebak Tren

Fenomena ini banyak terjadi saat tema AI mulai mendominasi pasar global.

Di Amerika, Nvidia, Microsoft, atau Alphabet menjadi motor penggerak pasar, banyak investor langsung mencari saham atau instrumen investasi yang berkaitan dengan AI.

Padahal, tidak sedikit investor yang sebenarnya sudah memiliki eksposur pada sektor teknologi sejak lama.

Mereka mungkin telah membeli saham teknologi, reksa dana saham global, atau instrumen investasi lain yang sebagian dananya sudah ditempatkan pada perusahaan-perusahaan yang kini menjadi pusat perhatian pasar.

Tanpa disadari, keputusan membeli aset baru justru membuat portofolio semakin terkonsentrasi pada sektor yang sama.

Kepala Riset TMX VettaFi Todd Rosenbluth mengatakan investor perlu memahami apa yang dimiliki sebelum memutuskan membeli investasi baru.

“Sebelum membeli apa pun, penting untuk melihat kepemilikan terbesarnya terlebih dahulu. Setelah itu, bandingkan dengan aset yang sudah Anda miliki,” ujarnya, mengutip CNBC Make It, Rabu (24/6/2026). .

Pesan tersebut pada dasarnya sederhana: jangan membeli sesuatu hanya karena sedang populer.

Banyak yang Merasa Diversifikasi, Padahal Belum

Salah satu kesalahan yang kerap terjadi di kalangan investor ritel adalah merasa telah memiliki portofolio yang beragam hanya karena memegang banyak instrumen investasi.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, sebagian besar dana mereka bisa saja mengarah ke sektor yang sama.

Misalnya, seorang investor memiliki saham teknologi, kemudian membeli instrumen bertema AI, lalu menambah lagi saham perusahaan teknologi yang sedang naik daun.

Di atas kertas jumlah investasinya bertambah. Namun secara substansi, eksposurnya tetap terkonsentrasi pada kelompok perusahaan yang sama.

Kondisi tersebut membuat portofolio lebih rentan ketika sektor teknologi mengalami tekanan.

Informasi Melimpah, Evaluasi yang Hilang

Menurut Analis Morningstar Zachary Evens, investor perlu memahami seberapa besar eksposur yang dimiliki terhadap sektor atau tema investasi tertentu.

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika pasar menghadapi ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik, perubahan kebijakan ekonomi, hingga perlambatan pertumbuhan global.

“Jika mereka tidak nyaman dengan eksposur tersebut, mereka mungkin perlu mempertimbangkan rebalancing ke investasi yang lebih terdiversifikasi,” kata Evens.

Tantangan terbesar investor saat ini bukan lagi kekurangan informasi.

Justru sebaliknya, informasi tersedia dalam jumlah yang berlebihan. Hampir setiap hari ada saham yang disebut sebagai peluang emas berikutnya. Ada sektor yang diprediksi akan menjadi pemenang baru. Ada perusahaan yang dianggap akan mencetak pertumbuhan luar biasa.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, banyak investor lupa melakukan satu hal yang paling mendasar: mengevaluasi portofolionya sendiri.

Bukan Soal Mengejar yang Baru

Dalam dunia investasi, keputusan terbaik tidak selalu datang dari menemukan saham baru.

Sering kali keputusan terbaik justru berasal dari memahami apa yang sudah dimiliki.

Sebelum mengikuti tren berikutnya, investor perlu bertanya: apakah investasi ini benar-benar menambah peluang baru, atau hanya menambah porsi risiko yang sama?

“Hal ini harus ditangani berdasarkan kasus per kasus, dimulai dari pertanyaan apa yang ingin diperoleh dari alokasi tersebut dan bagaimana investasi itu dapat masuk ke dalam strategi yang sudah dimiliki,” ujar Evens.

Di tengah berbagai tren investasi yang terus berganti, memahami isi portofolio bisa menjadi langkah yang lebih berharga daripada sekadar menjadi orang pertama yang ikut masuk ke tren berikutnya.

Topik terkait
Investasi FOMO Saham