Output Gap Jadi Kunci di Balik Keberanian BI dan Pemerintah Meningkatkan Uang Beredar

Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis laporan yang menunjukkan bahwa jumlah uang yang beredar dalam perekonomian Indonesia, atau yang dikenal sebagai M2, mencapai Rp 9.657,1 triliun per Agustus 2...

Output Gap Jadi Kunci di Balik Keberanian BI dan Pemerintah Meningkatkan Uang Beredar
Bacakan Artikel

Namun, peningkatan jumlah uang beredar ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama kekhawatiran memicu inflasi, alias kenaikan harga barang dan jasa. Emil menegaskan bahwa kekhawatiran ini belum atau tidak akan terjadi dalam 3 hingga 6 bulan ke depan.

"Apakah dalam 3 sampai 6 bulan ke depan akan inflasi? Menurut kami belum. Harga pangan tertentu, seperti beras, bawang, maupun cabai, memang bisa naik tiba-tiba dan mendorong inflasi, tetapi ini tidak terkait langsung dengan jumlah uang beredar. Inflasi inti, yang diyakini lebih deipengaruhi oleh jumlah uangberedar , diprediksi tetap stabil dalam waktu dekat," ujar Emil.

Keyakinan ini didasarkan pada kondisi perekonomian Indonesia yang masih memiliki output gap, atau selisih antara pertumbuhan ekonomi saat ini dan potensi maksimalnya. Dalam bahasa sederhana, output gap berarti ekonomi kita belum berjalan pada kapasitas penuh, sehingga masih ada ruang untuk tumbuh tanpa memicu kenaikan harga.

"Ekonomi kita masih ada yang namanya output gap. Pemerintah telah memaparkan potensial PDB kita itu 6% ke atas. Jadi, selama pertumbuhan PDB aktual kita belum 6%, menambah jumlah uang beredar belum akan menggerakkan inflasi," ungkap Emil.

Dua indikator utama yang menunjukkan bahwa output gap masih besar. Pertama, inflasi inti berada di level 2,3%, angka ini berada di bawah target BI sebesar 2,5%. Kedua, utilisasi industri, atau tangkat penggunaan kapasitas industri, masih di bawah 75%. Dengan kata lain, meski permintaan naik 10% pun, tidak akan menggerakkan inflasi secara signifikan. Hal ini dapat diasumsikan pabrik-pabrik di Indonesia masih bisa memproduksi lebih banyak sehingga permintaan yang naik dapat diimbangi dengan kenaikan produksi tanpa diikuti kenaikan harga jual.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: