Saham Murah Memang Menggoda, Tapi Kata Pakar Investasi: Cicil Aja, Jaga Cash Tetap Ready!
Kalcernomics.com - Belakangan ini, pergerakan ekonomi domestik lagi mengalami fase penyesuaian yang lumayan dinamis karena efek fluktuasi pasar global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri sempat drop lebih dari 3% pekan ini dan menyentuh level terendahnya di angka 5.607, sebelum akhirnya berhasil rebound naik 2,28% ke level 5.875,78 pada penutupan perdagangan Jumat (3/7).
Gak cuma saham, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga ikutan bergerak dinamis dan sekarang berada di kisaran Rp18.000, alias mengalami penyesuaian sekitar 2 persen dalam sepekan terakhir.
Plt. Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Danica Adhitama, mengungkapkan bahwa situasi pasar yang naik-turun ini sering kali bikin para investor ritel—termasuk anak muda—jadi galau. Banyak yang bimbang, apakah momen ini waktu yang tepat buat borong saham yang harganya lagi murah, atau justru momen buat menahan diri.
"Pertanyaan ini menjadi dilema terbesar masyarakat saat ini," kata Danica dalam keterangannya, Sabtu (4/7).
Pentingnya Jaga Likuiditas & Jangan Asal All-In Menanggapi kegalauan tersebut, Danica menyarankan para investor buat tetap berkepala dingin dan mengutamakan kecukupan likuiditas (dana kas atau pasar uang). Menurutnya, punya porsi dana di instrumen yang likuid bisa jadi bantalan finansial yang stabil di tengah kondisi ekonomi yang dinamis kayak sekarang.
Meskipun harga saham sekarang kelihatan menggiurkan banget setelah koreksi, Danica mengingatkan agar proses belanja investasi tetap pakai prinsip kehati-hatian. Strateginya adalah eksekusi secara bertahap, bukan langsung all-in secara instan.
Contekan Alokasi Portofolio Sesuai Profil Risiko Supaya gak salah langkah, Bahana TCW membagikan panduan praktis buat meracik portofolio investasi kamu berdasarkan profil risikonya:
-
Tipe Konservatif (Suka Aman): Buat kamu yang gak suka modalnya berkurang, disarankan taruh 70 persen dana di instrumen likuid (seperti tabungan bank dan reksa dana pasar uang). Sisanya, alokasikan 10 persen di saham sektor defensif yang kebal siklus ekonomi, dan 20 persen di emas buat lindung nilai dari inflasi.
-
Tipe Moderat (Pengen Cuan tapi Terukur): Komposisi idealnya adalah 60 persen di pos likuiditas (kombinasi reksa dana pasar uang dan obligasi jangka pendek), dan 40 persen sisanya bisa ditaruh di saham kategori blue chip yang fundamentalnya kuat.
-
Tipe Agresif (Si Pemberani Jangka Panjang): Buat yang punya target jangka panjang dan siap mental hadapi risiko tinggi, momen koreksi pasar sekarang bisa dimanfaatkan buat akumulasi atau beli aset berisiko secara bertahap.
Gak kalah penting, masyarakat juga diimbau buat tetap mengamankan dana darurat minimal setara 6 sampai 12 bulan pengeluaran rutin demi mengantisipasi risiko penurunan pendapatan.
"Jika ingin memanfaatkan momentum koreksi untuk mencicil saham, investor disarankan melakukan pembelian bertahap (dollar-cost averaging) sambil terus memantau pergerakan Rupiah, posisi penutupan IHSG, arah arus modal asing (capital flow), serta dinamika ekonomi global," tutup Danica.